“Boleh pilih sendiri?” — Kalimat yang Jarang Didengar Anak Yatim
Seorang anak berdiri lama di depan rak mainan.
Tangannya menyentuh satu kotak… lalu meletakkannya kembali.
“Kalau kamu suka, ambil aja,” kata relawan yang mendampinginya.
Anak itu menoleh dengan mata membulat. “Beneran boleh pilih sendiri?”
Pertanyaannya sederhana.
Tapi menyimpan kisah hidup yang panjang:
Selama ini dia hanya menerima apa yang sudah dipilihkan orang.
Baju sumbangan, sepatu bekas, mainan seadanya.
Jarang—atau mungkin belum pernah—ada yang bertanya:
“Kamu pengin yang mana?”
Di balik senyum anak-anak yatim, sering tersembunyi perasaan yang tidak kita lihat:
Keinginan kecil yang tak pernah diungkapkan.
Rasa sungkan karena terbiasa diberi, bukan diminta pendapat.
Mimpi-mimpi yang harus dikubur karena terlalu sederhana untuk diminta.
Bagi sebagian anak, belanja mungkin hal biasa.
Tapi bagi mereka, diberi kesempatan untuk memilih sendiri adalah bentuk penghargaan yang luar biasa.
📌 Di sebuah program sederhana, anak-anak yatim didampingi relawan masuk ke toko.
Mereka tidak diminta menerima paket.
Tapi dipersilakan memilih sendiri barang yang mereka inginkan.
Bukan karena kami ingin memanjakan mereka.
Tapi karena kami percaya:
Setiap anak—apalagi yang hidup tanpa orang tua—pantas merasa diperhatikan, dianggap penting, dan boleh bahagia.
Kisah seperti ini mungkin tidak viral.
Tapi untuk satu anak yang memeluk mainan pilihannya sambil tersenyum lebar…
Itu adalah hari yang tak akan pernah dia lupakan.