Tahun Ini, Mau Qurban di Kota atau ke Pelosok?
Setiap tahun, pertanyaan ini muncul lagi: “Mau qurban di sekitar rumah, atau lewat lembaga yang menyalurkan ke pelosok?”
Sekilas, qurban di kota terasa lebih dekat. Kita bisa lihat sendiri, bisa ambil bagian dagingnya. Tapi tahun lalu, kita juga melihat kenyataan lain: daging qurban menumpuk. Di kulkas. Di freezer. Bahkan ada yang tak sempat dibagikan dengan layak.
Sementara di tempat lain—di desa terpencil, di kaki gunung, di pesantren santri difabel—mereka hanya bisa berharap. Bukan karena tak ingin qurban, tapi karena tak mampu. Dan tak ada yang mengantar qurban ke sana.
Lalu, mana yang lebih bermakna?
Qurban bukan tentang seberapa besar hewannya. Tapi seberapa sampai kebaikannya. Bukan hanya siapa yang menyembelihnya, tapi siapa yang akhirnya bisa tersenyum karena menerimanya.
Tahun ini, kita punya pilihan. Qurban di kota… atau mengirimkannya ke tempat yang belum pernah merasakannya.
📍 Kalau kamu ingin qurbanmu jadi lebih bermakna, kami siap bantu salurkan ke pelosok dan pesantren difabel yang selama ini belum tersentuh.